Mengenal Apa Itu Avoidant Personality Disorder (AVPD), Apa Penyebabnya? Dan Apa Saja Gejalanya?

Apa Itu Avoidant Personality Disorder (AVPD)

Di Jepang, ada sebuah fenomena sosial bernama Hikikomori. Yakni mengurung diri dikamar serta menarik diri dari lingkungan sosial. Mereka yang melakukan Hikikomori, umumnya hanya akan keluar rumah jika betul-betul mendesak. Seperti harus berbelanja bahan makanan atau membeli sesuatu yang sangat mereka butuhkan. Hikikomori pun umumnya dilakukan dalam rentang waktu yang cukup lama. Dalam sebuah tayangan dokumenter yang pernah saya tonton, ada yang bahkan telah melakukannya selama 2 tahun. Gilanya, ada yang bahkan mengaku sudah tidak bertemu dengan anggota keluarganya selama berbulan-bulan meski masih berada dalam satu atap, alias tinggal dirumah yang sama.

Usut punya usut, kebanyakan dari mereka melakukan hal ini “karena merasa telah gagal”. Ada yang mengaku gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi dan adapula yang mengaku sudah terlalu lama menganggur hingga malu untuk bertemu dengan orang lain. Tentu hal ini berkaitan erat dengan budaya Workaholic alias gila kerja (Karoshi) dinegara ini. Saya ingat, semasa kuliah dulu dosen bahasa jepang saya sempat bercerita bagaimana kerasnya “bekerja di jepang”. Menurutnya, tak ada satupun karyawan yang akan pulang atau meniggalkan meja kerjanya (meski sudah waktunya pulang) jika atasan mereka belum meninggalkan ruangan. Hal ini karena mereka yang pulang cepat, biasanya justru akan dicap sebagai orang yang malas. Maka wajar rasanya, jika mereka yang telah menganggur cukup lama akan lebih memilih untuk menarik diri ketimbang dicap sebagai “sampah masyarakat” oleh orang-orang disekelilingnya.

Dalam dunia medis, Hikikomori kerap dikaitkan dengan Avoidant Personality Disorder (AVPD). Avoidant Personality Disorder merupakan gangguan kepribadian yang membuat penderitanya kerap menghindar dari interaksi sosial. Bedanya, para penderita AVPD tak lantas mengurung diri dikamar (meski adapula yang akhirnya melakukannya). Mereka masih akan tetap keluar rumah untuk beraktivitas. Namun hanya akan berinteraksi dengan orang-orang “yang dianggapnya” tidak akan memberikan penolakan. Yap, mereka yang menderita AVPD umumnya adalah mereka yang takut ditolak dan kerap merasa diasingkan oleh lingkungan sekitar. Meski sebetulnya tidak.

Penyebab Avoidant Personality Disorder (AVPD)

Penyebab Avoidant Personality Disorder (AVPD)

Belum jelas memang, apa sebetulnya penyebab AVPD. Namun banyak yang menduga bahwa AVPD berkaitan erat dengan faktor genetik, lingkungan, sosial, dan psikologis penderitanya. Bullying misalnya, perilaku ini dapat meninggalkan bekas yang begitu dalam bagi para korbannya. Dan tak sedikit penderita AVPD yang dulunya adalah korban dari perilaku bullying. Seperti sering menerima ejekan dari teman sebayanya, dan lain sebagainya. Yap kebanyakan korban bullying, masih terus membawa ingatan traumatis itu hingga dewasa dan berujung pada gangguan kepribadian seperti AVPD.

Mereka yang mengalami AVPD biasanya juga adalah mereka yang kurang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Entah karena kedua orang tuanya terlalu sibuk bekerja saat mereka masih anak-anak. Atau pola asuh yang salah yang membuat si anak mungkin merasa diabaikan, dibanding-bandingkan hingga akhirnya merasa tertolak.

Atau yang terakhir, terlalu sering menerima kritik. Tentu, dalam konteks yang positif. Sebuah kritik bertujuan untuk membangun. Namun bagi mereka yang terlalu sensitif. Menerima terlalu banyak kritik justru membuat mereka merasa tidak kompeten di bidangnya.

Gejala Avoidant Personality Disorder (AVPD)

Gejala Avoidant Personality Disorder (AVPD)

Gejala AVPD baru dapat dikenali saat anak menginjak usia remaja. Hal ini karena kepribadian belum terbentuk seutuhnya saat masih anak-anak. Sehingga terlalu dini untuk menyebutnya sebagai AVPD, jika kamu menjumpai berbagai gejala berikut pada anak-anak. Sementara pada usia remaja, kepribadian anak sudah mulai terbentuk. Meski begitu, anak masih harus di observasi dulu selama satu tahun kedepan untuk memastikan apakah betul ia mengidap AVPD atau bukan. Berikut, berbagai gejala avoidant personality disorder yang kerap terlihat pada orang dewasa:

1. Tidak memiliki teman dekat

Setiap kita umumnya memiliki minimal 1 teman dekat yang dapat kita sebut sebagai seorang sahabat. Teman yang membuat kita nyaman untuk berbagi dan menceritakan hal apapun yang kita alami. Sayangnya, hubungan semacam ini tidak dimiliki oleh para penderita AVPD. Mereka terlalu takut untuk menjalin sebuah hubungan yang terlalu dekat dengan orang lain.

2. Kerap menghindar dari orang lain

Para penderita AVPD lebih suka menghindari aktivitas atau pekerjaan tertentu yang banyak melibatkan kontak dengan orang lain. Yap, mereka lebih nyaman melakukan berbagai aktivitas dan pekerjaannya seorang diri. Mereka enggan untuk terlibat dengan orang lain.

3. Kerap menghindari hubungan asmara

Tak hanya hubungan persahabatan, para penderita AVPD juga kerap menghindari hubungan asmara. Mereka enggan untuk berbagi perasaan yang intim dengan lawan jenis. Karena lagi-lagi, mereka takut ditolak dan dilukai.

4. Terlalu Overthinking

Mereka selalu berpikir berlebihan dalam segala hal. Bagaimana jika begini? bagaimana jika begitu? Apa jadinya jika saya mengatakan ini? apa jadinya jika saya melakukan itu? dan lain seterusnya.

5. Kerap merasa cemas di tengah keramaian

Tak hanya cemas, penderita AVPD juga kerap menunjukkan gestur tubuh tegang atau seperti ketakutan saat berada ditengah keramaian. Sebisa mungkin, mereka akan buru-buru menghindari situasi sosial semacam ini.

6. Enggan mencoba hal baru dalam hidupnya

Bagi mereka, terlalu beresiko mencoba hal-hal baru yang mungkin saja justru akan mempermalukan diri mereka sendiri, utamanya jika mereka sampai gagal melakukannya dengan baik. Yap, hal ini karena mereka merasa tidak kompeten dan rendah diri dalam berbagai hal.

7. Enggan di kritik

Mereka juga terlalu sensitif untuk menerima kritikan dari orang lain. Karena bagi mereka kritik sama saja sebuah penolakan dan ketidaksetujuan terhadap hal tertentu yang mereka lakukan.

8. Terlalu pesimis

“Males ah, paling nggak bisa”, mungkin itu satu kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan poin ini. Saking pesimisnya, mereka selalu merasa kalah dari orang lain. Dan ya, untuk apa mereka melakukannya, jika ujung-ujungnya mereka akan kalah lagi dari orang lain. Mungkin itu yang ada dibenak mereka. Kebanyakan mereka yang mengidap AVPD memiliki self-esteem atau penghargaan yang cukup rendah pada diri sendiri.

9. Tidak memiliki akun media sosial

Pada tingkat yang cukup parah penderita AVPD bahkan enggan untuk berhubungan dengan orang meski hanya secara virtual. Itu sebabnya, ada diantara mereka yang bahkan tidak memiliki akun di media sosial sama sekali. Kecuali YouTube kali ya, karena layanan streaming yang satu ini mau tidak mau memang terkoneksi dengan berbagai layanan lain yang diberikan Google.

10. Melakukan Hikikomori alias mengisolasi diri

Yang terparah adalah jika penderitanya sampai melakukan Hikikomori alias mengisolasi diri dari sekitar. Karena dititik ini penderita AVPD mungkin saja telah mengalami gangguan mental health lain, yakni Anhedonia. Suatu kondisi dimana seseorang sulit menikmati hidup dan kehilangan semua minat dan kesenangannya pada hal-hal tertentu yang sebelumnya dianggap menarik.

Meski begitu, penderita AVPD sejatinya memiliki kebutuhan terdalam untuk dicintai, dikasihi, dan disukai oleh orang lain. Dan bukan tidak mungkin mereka akan membuka diri pada orang-orang tertentu yang diaggap tidak akan “menyakitinya”. Langkah terbaik untuk menangani hal ini adalah dengan mengkonsultasikannya pada seorang psikiater.

Advertisement

2 comments On Mengenal Apa Itu Avoidant Personality Disorder (AVPD), Apa Penyebabnya? Dan Apa Saja Gejalanya?

Leave a reply:

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Site Footer

Sliding Sidebar

Archives